AWAL SEBUAH PERTEMUAN

Penyakit lamaku kini kambuh lagi setelah lama tak merasakannya. Penyakit itu tak lain adalah penyakit jail atau iseng. Tapi kali ini lain dari biasa yang aku lakukan, kalau biasanya aku jail sama saudara-saudara atau teman-temanku, kali ini aku jail sama salah seorang temen kantor ibu yang bernama Joko Wiyono.

Mas Joko, ibu sering memanggilnya. Dia adalah sesosok cowok yang sholeh, dewasa, mandiri, dan juga baik. Selain itu ibu juga sering cerita kalau mas itu juga sregep dan pandai. Dari cerita-cerita ibu itu kini aku jadi penasaran sama yang namanya mas Joko itu.

Sore itu merupakan awal aku menyapanya untuk mengenalnya.

“ Pak guru saya mau tanya, kalau ada soal seperti ini jawabannya apa. Siapa saja yang termasuk Trimukti ? tolong dijawab ya pak.”

“ Dewa Wisnu, Brahma dan Siwa. Maaf ini siapa? “

“ Ukey pak makasih.”

Sekarang mungkin dia jadi penasaran akan siapa yang SMS dia. Dia berusaha untuk cari tau tentang orang itu dengan menanyakan beberapa pertanyaan pada si pengirim SMS tadi. Aku jadi kasihan dan takut. Kasihan udah buat dia bingung, dan takut kalau dimarahi ibu.

Setelah beberapa hari dia menanyakan hal tersebut, aku jadi capek sendiri buat bikin dia penasaran. Pada akhirnya aku mengakui siapa aku yang sebenarnya. Aku mengaku kalau nama aku Ratna, aku kira dia nggak tau kalau nama aku Ratna, soalnya kebanyakan temen ibu itu taunya namaku Ning. Sekarang dia udah tau siapa yang ngerjani dia. Aku pun juga sudah cerita sama ibu tentang kejailanku terhadap temen sekantornya itu. Alkhamdulillah mereka nggak marah sama aku. Terlebih mas Joko katanya malah malu soalnya sudah kena aku kerjani. Dari sini kami sering ngobrol.

Aku mengenal dia udah selama dua minggu kemarin, apa yang diceritakan ibu tentangnya itu ternyata benar. Aku jadi merasa pengen mengenal dia lebih dari ini nggak Cuma sebatas tau saja. Apalagi saat ini aku sendiri lagi butuh teman untuk menghibur hatiku yang lagi kacau karna seseorang yang telah menyakitiku.

Hari demi hari kini aku lalui dengan canda dan tawa bersamanya, bahkan saat aku sedang diopnam di Rumah Sakit. Dia selalu menemaniku setiap saat walaupun hanya lewat via HP saja. Hingga suatu hari entah kenapa tiba-tiba saja aku sedikit kesal dengannya. Sejak kejadian itu selama dua hari kami tak saling ngobrol, dia SMS nggak pernah aku balas, mungkin dia jadi merasa bersalah sampai suatu pagi dia SMS aku yang berisi :

“ Assammualaikum, mbak yang baek, maaf ya ada yang mau saya sampaikan:

1. Saya sekali lagi minta maaf jika nggak bisa jadi teman atau sahabat yang baek.

2. Mungkin kalau aku terganggu dengan SMS mbak dari dulu sudah nggak saya balas kali.

3. Aku bukan tipe orang yang suka nglarani hati orang lain mbak, kalau toh aku menyakiti hati mbak aku minta maaf (balas mbak nggak ada niat untuk itu).

4. Aku sama bu Sulis sering bersama sebagai teman sekantor, aku sudah seperti adik e. Hehe

Terimakasih for all. Hehe

Semangat !!!!!

Allah selalu bersama kita.”

SMS tersebut membuatku luluh untuk balek menyapanya. Sejak itu hubungan pertemanan kita menjadi baik kembali. Hari-hariku kini dipenuhi keceriaan bersamanya.

Diawal April mas Joko coba membaca hasil tulisanku, sebenere malu juga sih tapi nggak apalah mungkin dari tulisan-tulisan aku itu bisa membuatnya sedikit tau tentang aku dan siapa aku sebenarnya. Kini aku jadi semangat lagi untuk lanjutin belajar nulisnya. Walaupun dia nggak komen apa-apa tentang tulisanku itu. Kedatanganya telah membawa sebuah inspirasi baru dalam karyaku.

Selain dia membawa inspirasi buat aku, dia juga mengajari banyak hal positif padaku. Nggak Cuma itu saja, dia juga membuatku merasa dekat kembali dengan orang tuaku yang dulunya udah sempat hilang karna aku tinggal di kost. Orang tuaku sangatlah senang dengannya, karena dengan adanya dia, kini kehidupanku jadi berubah lebih baik dari yang kemarin-kemarin dan dia selalu buat aku tertawa saat ngobrol dengannya.

Sampai sekarang aku masih bingung dengan salah satu ucapan dia yang sampai sekarang aku juga belum tau apa maksudnya. Yang membuat aku bingung, dia itu bilangnya beneran ataukah hanya guyonan semata. Karna setiap aku tanya kenapa dia selalu jawab kalau dia itu nggak pantas buat aku miliki. Dari jawaban itu terkadang aku berpikir kenapa orang yang telah membuatku merasa nyaman bila didekatnya, harus melihat aku dari segi status dan materi. Padahal kalau dia tau aku ingin mengenal dia itu dari apa adanya bukan dari ada apanya.

Aku pun coba untuk meyakinkan dia kalau apa yang dia pikirkan tentang aku itu salah. Malah sebaliknya, kehadiran dia di kehidupanku membuat hidupku jadi berarti, aku seperti menemukan kehidupan baru.

Lama kelamaan aku mengenal dia, aku jadi merasa semakin nyaman jika didekat dia, aku jadi bisa terbuka sama orang tuaku. Sampai-sampai orang tuaku sering nanyain dia sama aku, bahkan kadang aku malah diguyoni sama beliau. Kini aku tak tau dengan apa yang aku rasakan sekarang. Rasanya pengen selalu berada di dekatnya dan merasa kesepian saat dia nggak ada. Apa ini yang dinamakan sayang atau cinta?

Aku tak mau terburu-buru untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di benakku itu, karna aku mau pastiin dulu seperti apa perasaanku sekarang. Sambil menunggu kepastian itu aku menjalani semua ini seperti air mengalir saja, karna aku yakin kalau waktu yang akan menjawab semua pertanyaanku itu.

Kini setelah aku mengetahui jawaban akan pertanyaan dibenakku, aku berusaha untuk tetap menjaga. Namun dia tetap bersikokoh dengan jawaban dia kalau dia takut.

Ketika orang tua ku mengetahui hal ini, beliau sepertinya memberikan sinyal yang baek atas kedekatanku dengannya. Beliau mengijinkan aku untuk keluar jalan-jalan dengannya. Betapa bahagianya hatiku bisa keluar sama dia untuk yang pertama kalinya. Namun saat kita makan ada satu kejadian lucu yang sampai sekang aku masih ingat, kalau ternyata dia itu nggak suka makanan pedas. Melihat dia makan pedas itu aku jadi kasihan dan pengen ketawa. Kasihannya dia jadi kepedesan dan pastinya perut dia bakal mules. Sedang pengen katawanya melihat wajah dia yang bercucuran keringat.

Sepulang dari maen itu, sekarang aku jadi sering diguyoni sama orang tua ku. Nggak Cuma orang tua ku saja tapi juga keluargaku. Terlebih simbah, beliau malah terang-terangan menyuruh aku nikah sama mas Joko saja. Aku mendengar semua itu malah jadi kaget, soalnya tiba-tiba saja simbah bilang gitu. Alkhamdulillah satu restu udah aku dapatkan.

Suatu malam saat aku membantu ibu koreksi tes mid semester  siswa ibu, aku berusaha untuk ngomong sama ibu tentang apa yang aku rasakan terhadap mas Joko. Ibu pun menanggapinya dengan sedikit guyonan, biar nggak sepaneng. Sebenarnya takut cerita semua itu, tapi setelah aku pikir-pikir lagi, akhirnya aku beranikan untuk ngomong sama ibu. Saat itu juga ibu malah bercerita banyak tentang dia. Dari cerita ibu itu aku jadi semakin yakin akan jalan yang aku pilih yaitu menikmati sisa umurku bersama dengannya.

Obrolan kami pun selesai tepat di jam 20.30 WIB, bertambah bahagialah hatiku dimalam itu. Tapi aku masih bingung, disaat restu udah aku dapatkan aku masih belum tau caranya untuk bisa luluhin hati mas Joko kalau aku bener-bener ingin menjalani hubungan serius dengannya. Aku berusaha terus meyakinkan dia dan nggak ada kata bosan atau menyerah. Selain itu aku juga ceritakan kalau apa yang dia takuti selama ini nggak pernah terlintas di pikiran orang tuaku, karna dari awalnya orang tua ku memang pengen menyatukan kita. Setelah dia tau akan semua itu, dia luluh dan mengakui kalau dia sudah mulai menyukaiku dan dia juga menginginkan hubungan yang serius bersamaku.

Dikeesokkan hari, tepatnya setelah sholat Isa’ aku dipanggil orang tua ku. Pada awalnya aku masih belum tau ada apa, tapi saat aku mau masuk kamar beliau aku jadi ingat tentang kemarin malam itu. Di dalam kamar itu aku langsung ditanya sama ibu di hadapan bapak, padahal aku paling takut sama bapak. Ibu menanyakan keseriusan aku sama mas Joko. Setelah aku jawab semua itu, bapak pun juga memberikan restu itu juga. Saat itu aku bener-bener nggak percaya dengan apa yang aku dengar, dengan apa yang ada dihadapanku.

Malam itu pun bapak dan ibu malah cerita tentang kelanjutannya besok bagaimana sekaligus merancang acara pernikahannya. Aku sebagai anak hanya menurut saja sama orang tua, karna dari dulu aku memang nggak punya keinginan untuk memeriahkan hari pernikahanku walaupun itu hanya sekali dalam seumur hidupku. Aku ingin semua itu dilaksanakan secara sederhana dan disaksikan keluarga.

Sekarang aku sudah bener-bener mantap dan yakin dengan apa yang aku dengar tadi. Sekarang tinggal menunggu kepastian dari mas Joko, kapannya dia siap untuk semua itu.

Ya Allah jika memang dia jodohku, tolong jaga smua ini hingga nanti waktunya tiba, dan persatukanlah kami dalam sebuah ikatan yang Engkau Ridhoi. Karna hamba memang menginginkan dia sebagai jodohku. Yang akan menjadi imam dalam kehidupanku dan menemani hingga akhir usiaku.

Ya Allah mungkin hanya itu pintaku untuk Jodohku. Amiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn………..

***** THE END *****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s