permasalahan sosial

 

Makalah Ilmu Sosial Budaya Daerah

Permasalahan Sosial

 

Disusun Oleh:

RATNA DEWI S (A410 070 113)

 

 

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2009

PERMASALAHAN SOSIAL

  1. Pendahuluan

Gejala-gejala yang wajar di dalam masyarakat adalah merupakan telaan dari sosiologi. Adapun gejala-gejala yang wajar tersebut antara lain: norma-norma, kelompok social, lapisan masyarakat, lembaga kemasyarakatan, proses social dan kebudayaan serta perwujudan.

Untuk kita ketahui bahwa tidak semua gejala-gejala tersebut di atas berjalan secara normal seperti yang dikehendaki oleh masyarakat bersangkutan. Gejala-gejala yang tidak dikehendaki merupakan gejala abnormal. Hal tersebut karena unsure-unsur masyarakat tidak ndapat berfingsi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan kekecewaan dan penderitaan. Dan gejala-gejala tersebut dinamakan masalah-masalah social.

Masalah-masalah social berbeda dengan problem-problem lainnya di dalam masyarakat, karena masyarakat social punya hubungan erat dengan nilai-nilai social dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Masalah tersebut bersifat social karena berkaitan dengan hubungan dengan manusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normative. Adapun hal ini dinamakan masalh karena berkaitan dengan gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan dalam masyarakat. Jadi berarti bahwa masalah-masalah social menyangkut nilai-nilai social yang mencakup pula segi moral, karena untuk dapat mengklasifikasikan suatu persoalan sebagai masalah social, maka harus gunakan penilaian sebagai ukuran.

Untuk setiap masyarakat tentunya mempunyai ukuran yang berbeda :

Contoh: Gelandangan, Judi

Kita tahu gelandangan merupakan masalah social yang dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Namun demikian di kota-kota lainnya belum tentu gelandangan dianggap masalah social. Begitu pula dengan permainan judi. Pada waktu lalu judi dianggap sebagai masalah social yang sangat serius, tapi mungkin juga dewasa ini tidak. Disamping itu pula ada juga masalah-masalah yang tidak bersumber pada penyimpangan norma-norma masyarakat, tapi lebih banyak pada susunannya seperti :

  • Masalah penduduk
  • Masalah penganguran
  • Dll.
    1. Masalah Sosial, Batasan, dan Pengertian

Kadang-kadang masalah social dibedakan dalam dua macam persoalan yaitu :

Masalah masyarakat dengan problem social

Masalah masyarakat menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat, sedang yang kedua yaitu problem social adalah meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud untuk merperbaiki atau menghilangkan gejala-gejala abnormal tersebut.

Dikatakan sosiologi menyeloidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat, ini maksudnya agar dapat menemukan dan menafsirkan kenytaan-kenyataan kehidupan masyarakat. Sedangkan usaha-usaha perubahannya merupakan bagian dari pekarjaan social. Dengan kata lain, sosiologi berusaha untuk memahami kekuatan-kekuatan dasar yang berada di belakang tata kelakuan social.

Pekerjaan social berusaha untuk menanggulangi gejala-gejala abnormal dalam masyarakat atau untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Jadi pada dasarnya, masalah social menyangkut nilai-nilai social dan moral. Masalah-masalah tersebut meruoakan persoalan, karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hokum dan bersifat merusak. Sebab itu masalah-masalah social tidak mungkin ditelaan tnpa memperhitungka ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Sosiologi menyangkut teori yang hanya dalam batas tertentu menyangkut nilai-nilai social dan moral. Meskipun sosiologi meneliti gejala-gejala kemasyarakatan, namun perlu juga mempelajari masala-masalah social. Karena itu merupakan aspek-aspek tata kelakuan social dengan demikian sosiologi juga berusaha mempelajari masalah-masalah seperti :

          • Kejahatan
          • Konflik atas ras
          • Kemiskinan
          • Perceraian
          • Pelacuran
          • Delinkuensi anak

Hanya dalam hal ini oleh karena sosiologi bertujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya masalah-masalah social. Jadi sosiologi tidak terlalu menekankan pada pemecahan atau jalan keluar dari masalah-masalah tersebut.

Kenapa demikian, karena usaha-usaha untuk mengatasi masalah social hanya mungkin berhasil jika didasarkan pada kenyataan serta latar belakangnya,maka sosiologi dapat pula ikut serta membantu mencari jalan keluar yang mungkin dapat dianggap efektif.

Pada mulanya ahli-ahli sosiologi tidak menaruh perhatian pada masalah social tersebut. Dan ada pula beberapa pendapat mengatakan bahwa aspek tersebut bukan merupakan bagian dari teori sosiologi. Namun oleh karena meningkatnya perhatian terhadap dinamika masyarakat, maka timbil pendapat bahwa masalah social adalah memang bagian dari sosiologi.

Sebetulnya masalah sosial ini adalah merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat. Dalam arti bahwa problem tadi memang sewajarnya timbul apabila tidak diinginkan adanya hambatan-hambatan terhadappenemuan-penemuan baru atau gagasan-gagasan baru. Banyak perubahan-perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat walaupun mungkin mengakibatkan goncangan-goncanganterutama bila perubahan berlangsung cepat dan bertubi-tubi. Dalam jangka waktu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan, timbullah masalah sosial, sampai unsure-unsur masyarakat berada dalam keadaan stabil lagi.

Lebih jauh dikatakan bahwa masalah social merupakan akibat dari interaksi social antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok.

Interaksi social berkisar pada ukuran nilai adapt istiadat tradisi dan ideology, yang ditandai dengan suatu proses social yang disosiatif.

Masalah-masalah social adalah suatu ketidak sesuaian antara unsure-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social, atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial.

Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antara unsure-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan sosial akan terganggu sehingga mungkin terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok.

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Suatu kebudayaan mungkin berubah sedemikian rupa bila para anggota masyarakat merasa bahwa kebutuhan-kebutuhannya tak dapat dipenuhi oleh kebudayaannya.

Mengenai kebutuhan tersebut mungkin berupa kebutuhan biologi ataupun sosial.secara biologi manusia mempunyai 2 kebutuhan yang fundamental :

  • Makanan
  • Hidup

Disamping kebutuhan makan dan hidup, berkembang kebutuhan-kebutuhan lain yang timbul karena pergaulan dalam masyarakat yaitu :

  • Kedudukan sosial
  • Peranan sosial

Apabila seseorang tidak dapat memenuhi baik kebutuhan biologis dan sosial maka kehidupannya akan tertekan.

Dikatakan memang lebih mudah merumuskan masalah sosial dari pada membuat suatu indeks yang memberi petunjuk akan adanya masalah sosial. Untuk kita ketahui bahwa ahli-ahli sosiologi telah banyak mengusahakan indeks-indeks tersebut antara lain:

            • Indeks rates yaituangka laju gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, misalnya: kejahatan anak-anak, bunuh diri, perceraian.
            • Composite indeks yaitu gabungan indeks-indeks dari bermacam-macam aspek yang mempunyai kaitan satu sama dengan yang lain.

Juga ahli-ahli sosiologi lainnya mereka melihat pada susunan penduduk dalam arti proporsi penduduk dalam lapisan masyarakat, tidak adanya keseimbangan dalam hubungan sosial dan sebagainya.

Dan seorang ahli sosiologi EMORY BOGARDUS, beliau mencoba untuk melihat indeks SOCIAL DISTANCE (jarak sosial). Karena apabila individu merasa dirinya jauh dari individu-individu lainnya, maka terdapat tanda akan goyahnya hubungan-hubungan sosial yang harmonis.

Memang indeks-indeks tersebut di atas sukar dijadikan ukuran mutlak, karena system nilai dan norma dalam setiap masyarakat berbeda satu dengan yang lainnya.

Angka-angka bunuh diri yang tinggi di dalam suatu masyarakat tertentu mungkin dianggap sebagai suatu indeks akan adanya disorganisasi. Akan tetapi mungkinukurannya pada masyarakat lain adalah angka kejahatan anak-anak atau perceraian atau kemiskinan atau pelanggaran dll.

Namun sebagai ukuran umum yang dapat dipakai sebagai ukuran terjadinya suatu disorganisasi dalam masyarakat misalnya adanya keresahan sosial (social unrest). Karena terjadinya pertentangan antara golongan-golongan dalam masyarakat, frekwensi penemuan baru yang fundamental dalam kebudayaan dan masyarakat tersebut juga menyebabkan perubahan-perubahan.

    1. Sebab-sebab Terjadinya Masalah Sosial

Sebab terjadinya masalah sosial yaitu timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang sumbernya pada factor :

      • Ekonomis
      • Biologis
      • Biopsikologis
      • Kebudayaan

Setiap masyarakat mempunyai norma yang tidak lepas dari kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala-gejala abnormal yang tentunya merupakan masalah sosial.

Sesuai dengan sumber-sumber tersebut, maka masalah sosial dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori seperti di atas yaitu:

  • Factor Ekonomi : problem-problem yang berasal dari faktor ini dapat dicontohkan, misalnya : kemiskinan, pengangguran, dll.
  • Factor Psikologis : problem-problem yang berasal dari factor ini dapat dicontohkan, misalnya : penyakit syaraf, bunuh diri, disorganisasi jiwa.
  • Factor Biologis : problem-problem yang berasal dari factor ini dapat dicontohkan, misalnya : penyakit.
  • Factor Kebudayaan : problem-problem yang berasal dari factor ini dapat dicontohkan, misalnya : perceraian, kejahatan, kenakalan anak-anak, konflik rasial, keagamaan.

Dan kadang-kadang ada suatu masalah dapat digolongkan pada beberapa kategori. Suatu contoh adalah kemiskinan. Kemiskinan ini terjadi mungkin saja merupakan akibat berjangkitnya penyakit paru-paru yang merupakan factor biologis atau sebagai akibat sakit jiwa yang bersumber pada faktor psikologis atau bias juga bersumber dari faktor kebudayaan yaitu oleh sebab kurangnya lapangan pekerjaan atau tidak adanya lapangan pekarjaan.

    1. Contoh Beberapa Masalah Sosial Yang Penting
    1. GELANDANGAN

Gelandangan adalah masalah sosial serius bagi setiap kota, secara nyata adanya persoalan ini mencerminkan problema sosial yang besar yang dapat ditemui dalam pergaulan hidup manusia dimana-mana termasuk di kota-kota di Indonesia.

Dalam publikasi pers “GELANDANGAN” di Indonesia sering diistilahkan dengan “TUNA WISMA” – “TUNA KARYA” yang berarti orang-orang yang hidupnya tidak memiliki perumahan dan pekerjaan tetap.

Mereka yang menjalani kehidupan gelandangan (tuna wisma-tuna karya) di kota-kota besar dapat dijumpai di Trotoir, Taman, Kolong-kolong jembatan dan tempat-tempat lain.

  • Sebab-sebab seseorang menjalani kehidupan gelandangan

Menurut ahli-ahli penelitian mengenai gelandangan di berbagai kota besar di Indonesia dapatlah disimpulkan bahwa mereka hidup sebagai gelandangan karena beberapa factor tertentu sbb:

    1. Sebab-sebab yang berhubungan dengan jasmani dan rohani:
      1. Frustasi / tekanan jiwa
      2. Cacat mental
      3. Cacat physic
      4. Malas bekerja
    2. Sebab-sebab sosial / kemasyarakatan:
      1. Pengaruh-pengaruh buruk dalam masyarakat (perjudian, madat, dll)
      2. Gangguan keamanan dan bencana alam yang memaksa penduduk desa mengungsi atau berurbanisasi ke kota-kota
      3. Pengaruh konflik sosial diman terdapat ketidak serasian hidup antara penduduk-penduduk desa yang mengadakan urbanisasi ke kota-kota dimana lapangan hidup telah tertutup dan keahlian yang bias digunakan di desa tidak dapat digunakan di kota-kota.
            1. Sebab-sebab ekonomi:
  1. Kesulitan menanggunghidup, lebih-lebih yang keluarganya besar.
  2. Kecilnya pendapatan per kapita sehingga lambat laun tak dapat bekerja terus.
  3. Kegagalan di bidang pertanian (areal tanah tidak dapat diperluas lagi untuk pertanian) belum berkembangnya industri sefingga tidak dapat menampung tenaga kerja.

Karena sebab-sebab diatas biasanya seseorang baik yang telah berada di kota-kota, daerah-daerah dekat kota dan yang terbesar dari desa-desa yang tidak memperoleh pekerjaan tetap dan tidak memiliki perumahan lalu hidup sebagai gelandangan di kota-kota.

    • Penghidupan dan kehidupan gelandangan

Tuna wisma-tuna karya di kota-kota dapat dijumpai dalam bentuk perorangan (tidak berkelompok) dan berkelompok. Gelandangan yang terikat pada suatu kelompok akn taat terhadap kepala kelompok yang mengorganisir untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu seperti cari kertas, pecahan kaca, puntung rokok, dll. Sedangkan yang tidak berkelompok melakukan sesuatu bebas menurut kehendaknya.

Sekalipun para gelandangan hidup tanpa pekerjaan tetap (nganggur) tetapi menurut penelitian, ternyata mereka mempunyai pencaharian juga untuk membiayai hidupnya dengan melakukan usaha-usaha:

  1. Membecak
  2. Memburuh (kuli)
  3. Mencari putung rokok, pecahan kaca, dll.
  4. Melacurkan diri
  5. Kerja di penampungan
  6. Mengemis

Dari pencaharian-pencaharian tersebut mereka memperoleh penghasilan tiap hari di antara Rp.500,- sampai dengan Rp.1500,- atau lebih. Untuk pengeluaran tiap hari hamper sama dengan jumlah penghasilan, dengan demikian dapat dikatakan sekalipun lahiriah gelandangan dilihatnya hidup tak wajar tetapi pada akhir-akhir ini nampak mereka masih dapat membiayai hidupnya. Juga ada yang terjun sebagai pencuri dan lain-lain.

    • Usaha-usaha untuk mengatasi gelandangan

Secara singkat dapat dikemukakan bahwa pemerintah daerah biasanya bekerja sama dengan polisi (vice control) dan jawatan sosial melakukan kegiatan-kegiatan menanggulangi gelandangan dengan usaha sbb:

      1. Mengdakan razia penangkapan kemudian ditampung di suatu tempat di luar kota untuk direhalilitir.
      2. Menampung para gelandangan untuk dididik dan dipersiapkan untuk dikembalikan ke masyarakat setelah memiliki kepandaian atau ditransmigrasikan.
        1. PROSTITUSI (PELACURAN)

Prostitusi berasal dari kata “prostituere” dari bahasa latin yang mengandung arti menonjolkan diri (dalam hal-hal yang buruk), atau menyerahkan diri secara terang-terangan kepada umum. Di Indonesia dikenal dengan istilah “pelacur”. Menurut Reley Scott penyerahan diri karena upah kepada umum dapat dilakukan oleh wanita dan laki-laki. Pendapat ini tidak umum di Indonesia dimana belum dirasakan adanya pelacur laki-laki seperti yang dikemukakan oleh Paul Moedikdo Moeliono sbb:

“pelacur dapat diartikan sebagai penyerahan badan wanita dengan pembayaran oleh orang laki-laki guna pemuasan nafsu sexual orang-orang itu”.

Pendapat ini lebih banyak dianut, karena sesuai dengan keadaan kita di Indonesia. Gejala penyerahan tubuh wanita dengan bayaran oleh orang laki-laki secara umum tanpa pilihan dilakukan dalam beberapa jenis dengan kategori sbb:

  1. pelacuran di bordil-bodil
  2. pelacuran panggilan
  3. balas dendam
  4. urbanisasi
  5. malas bekerja pengen hidup mewah

Dari pihak laki-lakinya banyak pula hal yang mendorong untuk berbuat iseng datang ke tempat-tempat pelacuran, antara lain bagi mereka yang takut kawin karena besarnya biaya hidup, karena tidak mendapat kebahagiaan di rumah, dan hal-hal lain yang bersifat pribadi.

Dengan adanya foktor-faktor penyebab baik yang terdapat pada wanita maupun pada laki-lakiditambah lagi dengan factor-faktor lingkungan sosial ekonomi dan lain-lain, maka seakan-akan ada hokum permintaan dan hokum penawaran yang didorong oleh faktor-faktor lingkungan sehingga terbentuklah “pasar” dimana terjadi drama prostitusi yang akan berlangsung dari masa ke masa.

Usaha-usaha Penanggulangan Masalah Prostitusi

Sekalipun disadari pelacuran sulit sekali diberantas, namun usaha penanggulangan dalam arti sekurang-kurangnya menekan atau mengurangi meningkatnya jumlah pelacur dan pelacuran dilakukan terus oleh pemerintah-pemerintah dearah beserta alat-alatnya, di berbagai Negara.

Cara-cara yang dilakukan dalam usaha penanggulangan pelacuran antara lain dengan:

  1. Melarang dengan undang-undang di ikuti dengan razzia-razzia / penangkapan.
  2. Dengan pencatatan dan pengawasan kesehatannya.
  3. Dengan lokalisasi, ditampung di tempat-tempat jauh di luar kota dengan pengawasan dan perawatan serta diberikan penerangan-penerangan agama atau pendidikan juga diadakan larangan-larangan terhadap anak-anak muda yang mengunjungi tempat tersebut.
  4. Rehabilitasi dalam asrama-asrama dimana para pelacur yang tertangkap setelah diseleksi maka yang dianggap masih dapat diperbaiki ditampung dalam asrama, dididik dalam hal ketrampilan, agama dll, dipersiapkan untuk dapat kembali ke masyarakat sebagai warga yang baik kembali.

Kesimpulan

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Permasalahan sosial yang banyak terjadi dilingkungan sekitar adalah masalah pengangguran. Pengangguran sekarang terjadi dimana-mana. Hal ini disebabkan banyak nya para pencari kerja tetapi sedikit nya lapangan kerja yang tersedia. Itu hanya salah satu sebab terjadinya pengangguran. Contoh sebab lain adalah Sumber Daya Manusia yang kurang berkualitas. Para generasi muda sekarang lebih suka bermalas-malasan dan bermain dari pada belajar demi menggapai masa depan. Sehingga disaat mereka dewasa karena tingkat pendidikan mereka sangat rendah sehingga mereka kesulitan mencari pekerjaan dan akan menjadi pengangguran. Kita harus berusaha mencapai hasil yang terbaik dalam hidup kita sehingga kita akan menjadi manusia yang berkualitas dan dapat membantu mengurangi masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita.

Jadi permasalahan sosial yang terjadi dilingkungan masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, tindakan criminal, penganggura, dll. Masih banyak faktor yang menyebabkan muncul nya masalah sosial dimasyarakat kita. Masalah ini tidak hanya terjadi di Negara kita saja tetapi masalah ini terjadi sama rata di seluruh pelosok dunia.

Daftar pustaka

  1. pdf-search-engine.com/penyebabmasalahmasalahsosial-pdf.html
  2. www.depsos.go.id/modules.php?name=Downloads&d_op…lid
  3. pdfdatabase.com/index.php?q=penyebab+masalah+pendidikan
  4. kerangalam.wordpress.com/…/membekali-diri-dengan-sosiologi/
  5. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/09/tugas-isd-masalah-sosial-di-lingkungan-sekitar
  6. http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam-masalah-sosial-dalam-masyarakat.
  7. http://nmdian.wordpress.com/tulisan-coqi/permasalahan-sosial-di-indonesia
  8. http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/isu-strategis/permasalahan-sosial-kependudukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s