PERJALANAN DIULTAH SEORANG KAKAK

Di pagi yang masih sangat sepi itu aku mulai melangkah menelusuri jalan yang kian jauh untuk menemukan suatu yang beda dari biasanya. Jalan- jalan, kota-kota masih tampak gelap gulita bagai langit tanpa bintang. Di tepi jalan itu aku berdiri seorang diri, menunggu datangnya bis, aku menaiki bis ke-2, aku duduk melamun di dalamnya sambil menikmati udara yang masih sangat dingin dan cerahnya sang surya dipagi yang memancar mengenai wajahku. Dengan rasa yang agak takut aku tetap melangkahkan kaki ku.

Aku coba telusuri kota itu terlebih dahulu untuk menemui seorang yang beberapa bulan kemarin aku kenal, sebelum aku menuju tempat yang akan aku tuju. Di dalam bis pun aku coba buat hubungi orang tersebut agar aku tau siapa yang akan jemput aku nantinya.

Setelah aku tau siapa yang akan menjemputku, kini aku lanjutkan kembali menikmati perjalanan itu dengan udara yang makin hangat dengan datangnya sinar matahari yang menyengat kulitku. Semakin ramai pula jalan-jalan itu walo saat itu hari libur. Banyak orang bepergian entah itu mau pergi berlibur atau sekedar jalan-jalan saja. Tak lama kemudian terlihatlah sebuah bangunan kokoh yang telah lama berdiri disana. Bangunan itu tak lain adalah sebuah candi prambanan yang memiliki cerita Ramayana yang terkenal hingga sampe ke negara tetangga. Sebelum sampe ditempat biasa aku dijemput tak lupa pula aku menghubungi mas Aziz yang akan jemput aku. Biar gak kelamaan menunggunya.

Sampelah aku ditempat itu, namun tak terlihat juga mas Aziz. Dengan rasa agak jengkel aku tetap menunggunya hingga dia nanti datang menjemput ku. Tapi smua itu tak membuat ku luluh atau mengurungkan niatku untuk melakukan perjalanan nantinya. Buat seorang kakak gak apalah kalo dibuat kesel dulu. Kan ada pepatah yang mengatakan “BERSAKIT-SAKIT DAHULU, BERSENANG-SENANG KEMUDIAN”.

Toko-toko  di sekitar udah mulai dibuka oleh pemiliknya namun mas Aziz belum juga kelihatan, aku pun smakin kesal sama dia. Menit demi menit aku menunggu dia sampai akhirnya dia datang. Waktu itu aku pengen banget marah dan ngamuk sama dia tapi setelah aku pikir–pikir kasihan juga kalo aku marah sama dia. Aku urungkan niatku untuk marah sama dia walopun dalam hati masih agak dongkol. Soale aku tipe orang yang agak susah marah, kalo marah biasanya malah nangis.hehe….

Perlahan kami pun mulai berjalan, kami pun hanya diam saja mungkin karna aku masih agak dongkol sama dia saja kali’. Akhirnya dia bicara dan minta maaf sama aku karna udah terlambat jemputnya, tapi aku tetap diam saja seolah aku beneran marah sama dia. Hingga dia melontarkan beberapa pertanyaan yang perlu aku jawab. Dari situlah aku mulai bicara setelah lama berdiam. (lama-lama diam juga gak enak je soale dah kebiasaan crewet sih.hehe.).

Kembali aku menikmati pemandangan di sekitar perjalanan menuju kontrakkan, sambil membayangkan ketika nantinya sampai di tempat Nia. Sesampainya di kontrakan, tak terlihat satu orangpun berada di sana, kecuali kita berdua. Hanya kesepian yang aku rasakan di dalamnya. Setelah terbuka pintu itu akupun langsung menghampiri kamar yang berada di ruang paling belakang, tak lain kamar itu kamar mas Aziz yang sering aku tempati kalo berada di sana.

Sebelum aku sampai dikamar itu aku melewati beberapa kamar dan ruangan yang letaknya sebelum kamar mas Aziz super berantakan, sampah dimana-mana plastik buku gelas piring smuanya berantakan gak karuan.(kalo aku dah gak betah nie). Sesampai kamar mas Aziz aku meletakkan tasku di atas meja dan ternyata kamar itu tak jauh beda dari ruangan lainnya, sama – sama berantakan.

Sambil menunggu orang yang jual makanan lewat aku bersihin kamar dia duluan baru setelah itu ruangan yang lainnya.

Beberapa menit kemudian orang yang jualan makanan itu lewat, aku pun segera memanggilnya dan menghentikan kerjaanku. Kami membeli sarapan terlebih dahulu, soalnya dari Solo aku belum sarapan, biasa kepagian berangkatnya jadi belum ada warung yang buka. Setelah makanan itu aku makan dengan lahapnya akupun melanjutkan membersihkan rumah itu. Sedikit demi sedikit akhirnya kerjaanku selesai juga. Rasa capek itu membuat mengantuk dan akhirnya aku tertidur pulas dikamar itu.

Sejam kemudian aku mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku, suara itu berasal dari salah satu ruang yang berada di rumah itu, dan tak lain itu adalah suara mas Hendro salah satu penghuni kontrakan juga yang ntah darimana. Tak lama kemudian orang yang aku tunggu pun datang juga dan langsung menghampiri aku yang baru bangun tidur dan tengah maenan HP dikamar itu.

Namun mas Mawi di kontrakan cuma sebentar saja untuk ngecek aku apakah aku sudah sampai, karena urusan dia belum selesai dan haruspergi lagi. Tapi sebelum mas Mawi pergi lagi, mas Bayu pun datang setelah aku bohongi kalo aku di kontrakan sendiri. Tinggalah tiga orang di rumah itu. Disitu kami becanda trus sampai laper menghampiri aku dan saat itu waktu berjalan cepat dibandingkan tadi saat cuma di rumah berdua.

Saat mas Bayu tau kalau aku sudah lapar, dia mengajakku keluar untuk makan. Tapi karna aku capek jadi aku malas ikut mereka. Namun mas Bayu terus memaksa aku untuk ikut mereka sampai mas Aziz marah. Setelah lama mereka coba untuk bujuk aku, akhirnya mas Bayu tau kalau saat itu aku bener-bener kecapekan, jadi dia menyuruhku untuk istirahat saja. Sedangkan dia pergi sama mas Aziz saja. Namun smua itu membuat mas Aziz jadi agak kesal sama aku. Beberapa menit kemudian mereka kembali membawa makanan untuk makan siang kami. Aku tetep masih males-malesan dikamar, biasa lagi males maem. Untuk membuat mas Aziz dan mas Bayu lega akhirnya aku kluar kamar.

Aku yang lagi gak nafsu makan itu pun mencoba memaksakan makanan itu masuk ke dalam mulutku. Sesendok demi sendok akhirnya habis juga.

Mas Mawi pun akhirnya pulang juga, dia langsung nyamperin aku lagi dan menyuruhku sholat asar dulu sebelum pulang soalnya takut tar kalo nyampe tempat Nia gak nyampe waktunya dah keburu abiz. Karna aku gak bawa rukuh akhirnya mas Mawi sholat ndiri sedangkan aku siap-siap untuk pulang.

Sebelum kami berangkat, mas Mawi menitipkan cucian yang belum kering sama mas Aziz, soalnya pada saat itu yang ada di kontrakan cuma mas Aziz. Tapi mas Aziz menjawabnya seperti orang yang nggak ikhlas menolong temannya gitu. Ya walaupun dia bilangnya cukup pelan tapi masih bisa aku dengar karna saat itu aku berada lebih dekat dengan dia daripada mas Mawi. Kalo aku komentar ntar ada yang kesinggung dan pada berantem gak genah. Lebih baik aku diam saja sambil ngelus dada, kok bisa gitu lho dimintai tolong sama temen ndiri kaya gitu. Berarti kalo sama aku kemungkinan lebih parah lagi ya.

Setelah itu akupun pamitan sama dia dan mas Bayu. Aku melihat mereka tampak gak ikhlas melepas kepergianku, wajahnya melas dan kusut banget. Baru kali ini aku melihat wajah – wajah itu ketika aku mau pulang dari kontrakan.

Dari situ lah perjalanan aku mulai. Di jalan pun aku terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti kalau mas Hamid tau aku bisa sampai di sana. Tak ada kata diam di sepanjang jalan yang sepi itu. Sampailah kami di puncak pegunungan itu, dari situlah kami bisa melihat indahnya kota Bantul, seperti surga dunia, elok anggun dan cantik sekali pemandangan itu apalagi waktu malam hari, cahaya lampu tampak kemilau di bawah sana. Tidak kalah juga kalau pagi hari kabut yang menutupi kota itu membuat kita slalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang kita dapat hari ini.

Cukup panjang juga perjalanan yang kami tempuh, hingga kami sampai tempat tujuan kami. Di sana kami disambut dengan ramah oleh seseorang yang sedang duduk di teras rumah tersebut. Dan tak lama kemudian keluarlah seorang wanita dari dalam rumah tak lain itu adalah Nia. Diapun membantu aku membawa tasku menuju kamarnya. Sejenak kemudian aku dikenalkan dengan seisi rumah. Dari pakde, mas pur, mb is sampai ponakannya Icha n Dicky.

Malam pun tiba, setelah makan malam aku langsung  disuruh beranjak masuk kamar, karna biasanya jam segitu mas Hamid maen ke rumah.

Mulailah aku sms dia, cuma sekedar pengen tahu dan ngajak ngobrol saja. Itung-itung juga sambil ngerjai dia. Tak lama kemudian ada suara ramai–ramai di luar dan ternyata itu suara maz hamid dan temen–temenya. Aku pun cepat–cepat menutup pintu kamar itu agar mas hamid nggak tahu kalo aku sudah ada disitu.

Akupun menuruti apa yang dibilang Nia, jam pun trus berjalan sampai saatnya tiba. Tepat jam 12 malam aku keluar untuk memberi surprise, tapi mas hamid masih dalam keadaan tidur, aku coba bangunin dia tapi nggak bangun – bangun sampai akhirnya aku guyurin air dimukanya. Diapun terbangun dari tidurnya, dan dia kaget karena mendapati aku berada di sana. Setelah dia sadar kalau itu bener-bener aku, dia baru menanyai aku kenapa aku bisa sampai sana. Sebenarnya pada saat aku guyur dia pakai air kasihan juga tapi tak apalah kan semua itu juga cuma setahun sekali saja. Dan untung saja gak mengenai baju yang dia pakai waktu itu. Obrolan pun berlanjut di dalam rumah Nia sampai larut malam. Hingga akhirnya aku putusin untuk tidur, karna rencana keesokan harinya aku balek ke Solo lagi.

Pagipun kini tiba udara pagi yang dingin juga ikut menyapa. Tak lama kemudian Icha keponakan Nia samperin kami di kamar, seorang anak kecil yang lucu dengan tawa dan candanya membuat pagi itu terasa ramai. Karna terlalu asyiknya bermain sama Icha gak sadar ada sms dari mas Hamid. Kalau dia minta maaf karena dia gak bisa nemeni aku yang sudah bela-belain maen ke sana buat dia dan dia juga bilang akan mengantarku pulang sebelum sholat Jum’at, karna setelah itu dia ada acara.

Karna masih ada waktu dan sambil menunggu mas Hamid pulang dari ngajar, Nia mengajakku jalan-jalan ke kota Wonosari, itung-itung dia hibur aku dan gantiin mas Hamid yang gak bisa nemeni aku jalan-jalan. Saat sampai di sebuah supermarket, tiba-tiba saja mas Hamid SMS. Kalau dia tidak bisa pulang lebih awal jadi nanti ngantar akunya abis sholat Jum’at.

Di supermarket itu aku sambil berpikir lagi apakah aku akan pulang hari ini ataukah besok. Sambil mencari informasi kapan adekku pulang Klaten, jadi bisa buat alasan kalau aku nggak pulang hari ini. Setelah aku tau adekku pulang ke Klaten kapan, aku pun putusin untuk pulang besok dan ngasih tau mas Hamid tentang keputusanku itu.

Sepulang dari jalan-jalan aku bermain-main dengan Icha, soalnya saat itu Nia harus berangkat kuliah jadi dia nggak bisa nemenin aku. Aku bermain dengan Icha sampai Nia pulang. Malam harinya sehabis sholat Isa’ mas Hamid maen ketempat Nia untuk menemani aku. Beberapa menit kemudian mas Hamid mengajakku keluar untuk membeli sesuatu. Mulanya aku nggak mau karna aku nggak enak sama keluarga Nia, tapi malah mereka yang nyuruh terpaksa deh ikut mas Hamid keluar. Aku kira keluarnya tidak jauh jadi aku tidak ganti baju dan memakai jaket. Padahal malam itu suasana di luar sangat gelap dan dingin. Tapi walaupun begitu aku sangat menikmati perjalanan malam itu. Karena aku bisa ngobrol leluasa dengan mas Hamid tanpa ada yang mengganngu. Beberapa saat sesampainya di rumah, ternyata kami sudah ditunggui sama keluarga Nia dan temen-temen mas Hamid. Ada satu kejadian yang sampe sekarang masih terekam di memoriku pada malam itu kakiku ditabrakkin motor mas Pur yang lagi diparkir di depan rumah. Seteleh kami masuk rumah kami ngobrol-ngobrol sebentar dan kemudian aku disuruh tidur sama mas Hamid, soalnya dia tau aku besok harus pulang pagi-pagi sekali. Sedang mas hamid juga tidur disana.

Dikeesokkan harinya setelah sholat subuh, aku membangunkan mas Hamid. Karna dia yang akan mengantarku balek. Setelah itu aku pamitan sama semua yang tinggal di rumah Nia itu, kecuali Icha yang masih tidur pulas. Diperjalanan menuju halte tempat dimana nanti aku naik bis, aku hanya diam termenung dan bertanya-tanya, apa aku bisa mengulang semua ini. Tak terasa air mata ini seakan ingin jatuh karna sudah tak tahan lagi yang bentar lagi harus berpisah sama kakak tersayang.

Di halte ini aku masih ditemani sama mas Hamid, rasanya bener-bener nggak percaya kalau sebentar lagi kami harus berpisah. Waktu begitu cepat bagiku.

Tetesan air mata sudah tidak bisa aku bendung lagi saat sebuah bis berhenti di depanku. Di dalam bis pun aku masih merasa berat meninggalkan kota itu. Walopun saat itu aku masih ditemani mas Hamid lewat sebuah SMS. Mas Hamid selalu memantau setiap perjalanan pulangku itu. Dan aku yakin kalau suatu saat aku pasti kembali ke sini untuk merasakan kasih sayang kakakku itu lagi.

Dua jam perjalanan telah aku tempuh, akhirnya aku sampai kost tepat sebelum adekku jemput untuk pulang ke Klaten. Sesampainya di kost tak lupa aku memberi kabar sama mas Hamid, Nia, Mas Pur, n mbak Iis kalau aku sudah sampai dengan selamat dan ngucapin terima kasih karna selama aku di sana aku diterima dengan baik.

Seperti itulah cerita tentang pejalanan aku disaat mas Hamid Ultah. Semua itu tak kan pernah bisa terlupakan olehku, karna aku menganggap semua itu adalah sebuah pengalaman menarikku bersama seorang kakak yang aku kenal dari sahabat kecilku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s